Sabtu, 07 September 2013

My cousin I love you


Usai sekolah
Bel pulang sekolah masih 15 menit lagi. Suhu bumi mendekati puncaknya. Butiran keringat terasa mulai melelehi sekujur tubuhku. Link yang duduk di sampingku sibuk mengipasi wajahnya dengan kipas andalannya yang bergambar Whenny the Phooh. Gerak-gerik semua siswa mulai tak tenang. Mata si Turpi’i sudah lawbet. Bisikan uapan Nico pelan-pelan dilepaskannya agar tak terdengar guru. Mahkota Puput yang selalu rapi mengkilat kini terlihat seperti baru bangun tidur. Belum teman-teman yang lain, entah bagaimana kabar mereka.
“Hari ini materi integral sudah kelar. Jadi minggu depan kita lanjutkan ke materi logika matematika”

Saura Ibu Enis terdengar sayu di telinga para siswa. Tidak ada lagi yang peduli pada guru matematika yang lumayan kiler itu. Sepertinya dia tak peduli pada kami yang sudah tidak tenang ingin cepat pulang.
“Oke, pelajaran hari ini kita akhiri dengan doa” Ibu Enis menoleh ke ketua kelas.
Oh tidak, sepertinya dia tertidur lagi dan berlindung di belakangku. Aku menyikut-nyikut kepalanya berharap dia bangun. Langkah Bu Enis mengalahkanku, dia lebih cepat berada di meja Citra.
“Paakkk...”
“teng teng teng teng ...”
Hantaman meja dan bel panjang berjodoh. Mereka serentak membangunkan Citra.
“Baiklah teman-teman, sebelum kita pulang marilah kita berdoa sesuai kepercayaan kita masing-masing, berdoa dimulai!” satu tarikan nafas Citra kusyuk memimpin dirinya berdoa sendiri. Sontak saja kami semua tertawa dan membuat suasanya kelas yang malas dan sayu menjadi aktif dan ramai. Bahkan Ibu Enis yang tadinya marah kini wajahnya mencair. Citra. Aku tidak tahu apa dia kusyuk berdoa atau kusyuk menahan malu, tapi sepertinya itu tidak berlaku padanya. Kikikkannya terdengar seperti orang bodoh. Hemmmm, kelasku yang baru kududuki selama 3 bulan. Aku nyaman di sini.
Turpi’i baterainya full, rambut Puput menjadi rapi, Nico senyum-senyum riang, Link masih dengan kipasnya, Citra sibuk dengan ejekan teman-teman. Aku. Yang pastinya aku senang karena hari ini waktunya pulang ke rumah. Aku sudah izin sama Mama Ati. Jadi, tidak perlu singgah ke rumahnya untuk pamitan. Kali ini aku tidak pulang bersama Link ataupun teman-teman. Tidak lewat jembatan gantung, pohon jambu wol takkan kusinggahi untuk sementara. sepuluh kawanan pulang akan berkurang satu. aku pasti jadi bahan ejekan ketika melihat album foto. Jelas saja gambarku tidak ada di sana. Sudah kebiasaan, tiap kali pulang kami tidak pernah melewatkan momen foto-foto sepanjang jalan pulang. Itu yang takkan pernah terlupakan. Pulang sekolah.
“Link, sa mau pulang dulu di rumahku”
“nda singgah dulu di rumah”
“sa sudah bilangji sama Mama”
“oh, jadi siapa yang antar?”
“sa naik ojek saja”
“okemi pale”
Cium pipi kiri kanan. Kebiasaan yang wajib dilakukan ketika berpisah dengan sepupu yang satu itu. Aku sudah terlalu dekat dengannya. Kami seperti saudara kandung. Kami sekamar, belajar bersama, kerja bersama, kemana-mana bersama, duduk sebangku, dan apapun dilakukan bersama. Anehnya, Link selalu ingin aku dan dia terlihat sama. Warna baju sama, model tas sama tapi beda warna, sepatu sama warna dan model, buku, pena, semuanya harus sama. Bahkan dia juga akhirnya memakai jilbab. Alhamdulillah.
Tinggal aku dan Citra yang masih di kelas. Aku menunggunya mengunci pintu, karena aku sekretarisnya jadi aku harus menunggunya. Terkadang juga aku meninggalkan Link untuk menemaninya mengurus kelas. Di mana ada Citra di situ ada Cintia, di mana ada Cintia di situ ada Citra. Begitulah aku dan dia yang memutuskan untuk menjadi saudara.
“Cin, Popi da ingin ketemu Kamu”Amin menghampiriku.
“Popi siapa? Di mana?” aku bingung dan berusaha mengingat, “Popi yang dari Ambalodangge?”sedikit menebak.
“da tunggu Kamu di sana” telunjukknya mengarah gapura sekolah.
“iya, duluanmi, sa tunggu dulu Citra” tambah bingung lagi. Selama ini aku tidak akrab dengannya. Mengapa tiba-tiba ingin bertemu denganku. Aku juga segan kepadanya. Terlebih lagi dia anak kelas tiga, anak IPA lagi. Gumamku terpotong oleh gandengan Citra yang mengajak pulang.
Langkahku terbata, pikiranku mengata. Gapura yang selalu kusukai kini seperti kursi pesakitan yang di sana sudah menunggu jaksa penuntut. Apa kira-kira perlunya. Aku mencoba menyembunyikan kegelisahanku kepada Citra. Dia masih berceloteh tentang kegokilannya tadi di kelas, sekali-sekali menertawai dirinya sendiri. Aku masih tidak memperdulikannya. Di kejauhan, aku sudah mengenal siluet itu. Si Popi yang wujudnya membentuk tanda tanya di mataku.
Dia membelakangi kami, dia pasti tahu kami sedang menghampirinya. Citra masih ribut dengan ceritanya.
“sudah mau pulang”kedengaran kaku tapi berani, dia menegur kami duluan.
“itu jemputanku sudah datang”dengan cueknya Citra menunjuk Ayahnya yang baru memasuki lorong sekolah.
“sudah lamakah di sini?”aku berusaha santai.
“baruji, setengah jam yang lalu”
“oh maaf nah, sa tunggu Citra tadi”aku tidak berani melihat wajahnya.
“memang harus begitu jadi pengurus kelas”menegaskan.
“Cintia, Kak, sa pulang duluan nah”Citra pamitan.
“iye, hati-hati”serentak, aku dan dia berpandangan.
“itu artinya jodoh”dia tersenyum.
“hallahh...”aku malu, suhu wajahku naik, mungkin memerah. Aku tak tahu. Semoga dia tidak memperhatikanku.
Kolekson motor ayahnya Citra mengisyaratkan kami. Mereka meninggalkanku dan hilang di ujung lorong. Di sekolah yang sudah tak berpenghuni, tinggallah aku dan dia. Hanya kami berdua.
Sekitar lima menit kami berada di ruang sepi, diam. Mendengar hembusan nafas masing-masing. Aku tidak tahu mau berbicara apa. Mungkin juga dia. Aku berharap dia yang membuka pembicaraan lebih dulu karena dia yang memintaku bertemu. aku merasa canggung terhadapnya. Baru kali ini berkomunikasi dengannya secara pribadi. Meskipun sering bertemu di tempat keluarga.
“kamu pasti sudah tahu maksudku, jadi sa nda perlu tanya lagi”
“ha?”alisku menyatu dan menoleh padanya yang sedang menunduk senyum.
“tinggal jawab saja”dia masih menunduk.
Aku bingung. Pertanyaannya tidak ada, aku harus jawab apa. Saat itu aku masih terlalu lugu untuk masalah seperti itu. Aku sebenarnya sudah menyadari saat itu aku sedang di tembak. Tapi, aku masih belum sadar dengan keadaanku saat ini.
“jadi bagaimanami? Terima nda?”dia mendesak.
“kita jalanmi dulu ke depan sekalian cari ojek”basa-basi cari bahan lain.
“oh mau pulangkah”
“sudah hampir satu bulan nda di rumah”
Langkahku dan langkahnya serentak. Bayangan kami terinjak kaki dan sangat pendek. Menandakan waktu sudah tengah hari. Suhu tanah menguap memanasi tubuh kami. aku lupa punya payung, biarpun aku mengingatnya, saat ini bukan waktunya untuk memakainya. Aku tidak mau ceritaku garing. Kami akhirnya memilih jalan di bawah pohon rindang. Sampailah kami di depan jalan raya. Kelihatannya ojek belum ada.
“jadi bagaimanami?”dia kembali bertanya.
Aduh, aku harus jawab apa. Meskipun saat itu aku sedang jomlo tapi aku belum punya perasaan sedikitpun ke dia. Bicara saja baru kali ini. Datang-datang langsung menembak.
“apa harus sekarang ya dijawabnya?”
“saya tidak suka menunggu”
“tapi sa belum suka sama Kita”
“kita jalan saja dulu, nanti kan pasti akan muncul itu rasa suka”
“tapi kan kita sepupuan”mengingatkan. Mungkin saja dia lupa atau tidak tahu.
“memangnya kenapa kalo kita sepupuan”
“ndaji, canggung saja”jadi malu, kirain dia tidak tahu.
Emilia bernyanyi Big-big world di handphoneku. Link memanggil.
“assalamualaikum, kenapa say?”
“belum, tidak ada ojek di sini, pinjampi motornya Ka Adi baru antar saya”
“umm, cepat nah, di halte”
“okemi, waalaikumsalam”
Dia sepertinya mulai gelisah melihat aku buru-buru minta diantar pulang. Aku merasa bersalah membuat dia menunggu jawabanku.
“begini saja, saya terima kita jadi pacarku tapi maaf, untuk saat ini saya belum punya perasaan sama kita, Insya Allah saya akan suka sama Kita suatu saat”
“terima kasih nah”wajahnya berubah merona, malu dan mungkin bahagia.
“itu Link sudah datang, sa duluan nah”
“okemi, sampai ketemu nanti”
Aku hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan dia yang sedang berbunga-bunga hatinya. Aku masih tak percaya.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar