Usai sekolah
Bel
pulang sekolah masih 15 menit lagi. Suhu bumi mendekati puncaknya. Butiran
keringat terasa mulai melelehi sekujur tubuhku. Link yang duduk di sampingku
sibuk mengipasi wajahnya dengan kipas andalannya yang bergambar Whenny the Phooh. Gerak-gerik semua
siswa mulai tak tenang. Mata si Turpi’i sudah lawbet. Bisikan uapan Nico pelan-pelan dilepaskannya agar tak
terdengar guru. Mahkota Puput yang selalu rapi mengkilat kini terlihat seperti
baru bangun tidur. Belum teman-teman yang lain, entah bagaimana kabar mereka.
“Hari ini materi integral sudah kelar. Jadi
minggu depan kita lanjutkan ke materi logika matematika”
Saura
Ibu Enis terdengar sayu di telinga para siswa. Tidak ada lagi yang peduli pada
guru matematika yang lumayan kiler itu. Sepertinya dia tak peduli pada kami
yang sudah tidak tenang ingin cepat pulang.
“Oke,
pelajaran hari ini kita akhiri dengan doa” Ibu Enis menoleh ke ketua kelas.
Oh
tidak, sepertinya dia tertidur lagi dan berlindung di belakangku. Aku menyikut-nyikut
kepalanya berharap dia bangun. Langkah Bu Enis mengalahkanku, dia lebih cepat
berada di meja Citra.
“Paakkk...”
“teng
teng teng teng ...”
Hantaman
meja dan bel panjang berjodoh. Mereka serentak membangunkan Citra.
“Baiklah
teman-teman, sebelum kita pulang marilah kita berdoa sesuai kepercayaan kita
masing-masing, berdoa dimulai!” satu tarikan nafas Citra kusyuk memimpin
dirinya berdoa sendiri. Sontak saja kami semua tertawa dan membuat suasanya
kelas yang malas dan sayu menjadi aktif dan ramai. Bahkan Ibu Enis yang tadinya
marah kini wajahnya mencair. Citra. Aku tidak tahu apa dia kusyuk berdoa atau
kusyuk menahan malu, tapi sepertinya itu tidak berlaku padanya. Kikikkannya
terdengar seperti orang bodoh. Hemmmm, kelasku yang baru kududuki selama 3
bulan. Aku nyaman di sini.
Turpi’i
baterainya full, rambut Puput menjadi rapi, Nico senyum-senyum riang, Link
masih dengan kipasnya, Citra sibuk dengan ejekan teman-teman. Aku. Yang
pastinya aku senang karena hari ini waktunya pulang ke rumah. Aku sudah izin
sama Mama Ati. Jadi, tidak perlu singgah ke rumahnya untuk pamitan. Kali ini
aku tidak pulang bersama Link ataupun teman-teman. Tidak lewat jembatan
gantung, pohon jambu wol takkan kusinggahi untuk sementara. sepuluh kawanan
pulang akan berkurang satu. aku pasti jadi bahan ejekan ketika melihat album
foto. Jelas saja gambarku tidak ada di sana. Sudah kebiasaan, tiap kali pulang
kami tidak pernah melewatkan momen foto-foto sepanjang jalan pulang. Itu yang
takkan pernah terlupakan. Pulang sekolah.
“Link,
sa mau pulang dulu di rumahku”
“nda
singgah dulu di rumah”
“sa
sudah bilangji sama Mama”
“oh,
jadi siapa yang antar?”
“sa
naik ojek saja”
“okemi
pale”
Cium
pipi kiri kanan. Kebiasaan yang wajib dilakukan ketika berpisah dengan sepupu
yang satu itu. Aku sudah terlalu dekat dengannya. Kami seperti saudara kandung.
Kami sekamar, belajar bersama, kerja bersama, kemana-mana bersama, duduk
sebangku, dan apapun dilakukan bersama. Anehnya, Link selalu ingin aku dan dia
terlihat sama. Warna baju sama, model tas sama tapi beda warna, sepatu sama
warna dan model, buku, pena, semuanya harus sama. Bahkan dia juga akhirnya
memakai jilbab. Alhamdulillah.
Tinggal
aku dan Citra yang masih di kelas. Aku menunggunya mengunci pintu, karena aku
sekretarisnya jadi aku harus menunggunya. Terkadang juga aku meninggalkan Link
untuk menemaninya mengurus kelas. Di mana ada Citra di situ ada Cintia, di mana
ada Cintia di situ ada Citra. Begitulah aku dan dia yang memutuskan untuk
menjadi saudara.
“Cin,
Popi da ingin ketemu Kamu”Amin menghampiriku.
“Popi
siapa? Di mana?” aku bingung dan berusaha mengingat, “Popi yang dari
Ambalodangge?”sedikit menebak.
“da
tunggu Kamu di sana” telunjukknya mengarah gapura sekolah.
“iya,
duluanmi, sa tunggu dulu Citra” tambah bingung lagi. Selama ini aku tidak akrab
dengannya. Mengapa tiba-tiba ingin bertemu denganku. Aku juga segan kepadanya.
Terlebih lagi dia anak kelas tiga, anak IPA lagi. Gumamku terpotong oleh
gandengan Citra yang mengajak pulang.
Langkahku
terbata, pikiranku mengata. Gapura yang selalu kusukai kini seperti kursi
pesakitan yang di sana sudah menunggu jaksa penuntut. Apa kira-kira perlunya.
Aku mencoba menyembunyikan kegelisahanku kepada Citra. Dia masih berceloteh
tentang kegokilannya tadi di kelas, sekali-sekali menertawai dirinya sendiri.
Aku masih tidak memperdulikannya. Di kejauhan, aku sudah mengenal siluet itu.
Si Popi yang wujudnya membentuk tanda tanya di mataku.
Dia
membelakangi kami, dia pasti tahu kami sedang menghampirinya. Citra masih ribut
dengan ceritanya.
“sudah
mau pulang”kedengaran kaku tapi berani, dia menegur kami duluan.
“itu
jemputanku sudah datang”dengan cueknya Citra menunjuk Ayahnya yang baru
memasuki lorong sekolah.
“sudah
lamakah di sini?”aku berusaha santai.
“baruji,
setengah jam yang lalu”
“oh
maaf nah, sa tunggu Citra tadi”aku tidak berani melihat wajahnya.
“memang
harus begitu jadi pengurus kelas”menegaskan.
“Cintia,
Kak, sa pulang duluan nah”Citra pamitan.
“iye,
hati-hati”serentak, aku dan dia berpandangan.
“itu
artinya jodoh”dia tersenyum.
“hallahh...”aku
malu, suhu wajahku naik, mungkin memerah. Aku tak tahu. Semoga dia tidak
memperhatikanku.
Kolekson
motor ayahnya Citra mengisyaratkan kami. Mereka meninggalkanku dan hilang di
ujung lorong. Di sekolah yang sudah tak berpenghuni, tinggallah aku dan dia.
Hanya kami berdua.
Sekitar
lima menit kami berada di ruang sepi, diam. Mendengar hembusan nafas
masing-masing. Aku tidak tahu mau berbicara apa. Mungkin juga dia. Aku berharap
dia yang membuka pembicaraan lebih dulu karena dia yang memintaku bertemu. aku
merasa canggung terhadapnya. Baru kali ini berkomunikasi dengannya secara
pribadi. Meskipun sering bertemu di tempat keluarga.
“kamu
pasti sudah tahu maksudku, jadi sa nda perlu tanya lagi”
“ha?”alisku
menyatu dan menoleh padanya yang sedang menunduk senyum.
“tinggal
jawab saja”dia masih menunduk.
Aku
bingung. Pertanyaannya tidak ada, aku harus jawab apa. Saat itu aku masih
terlalu lugu untuk masalah seperti itu. Aku sebenarnya sudah menyadari saat itu
aku sedang di tembak. Tapi, aku masih belum sadar dengan keadaanku saat ini.
“jadi
bagaimanami? Terima nda?”dia mendesak.
“kita
jalanmi dulu ke depan sekalian cari ojek”basa-basi cari bahan lain.
“oh
mau pulangkah”
“sudah
hampir satu bulan nda di rumah”
Langkahku
dan langkahnya serentak. Bayangan kami terinjak kaki dan sangat pendek.
Menandakan waktu sudah tengah hari. Suhu tanah menguap memanasi tubuh kami. aku
lupa punya payung, biarpun aku mengingatnya, saat ini bukan waktunya untuk
memakainya. Aku tidak mau ceritaku garing. Kami akhirnya memilih jalan di bawah
pohon rindang. Sampailah kami di depan jalan raya. Kelihatannya ojek belum ada.
“jadi
bagaimanami?”dia kembali bertanya.
Aduh,
aku harus jawab apa. Meskipun saat itu aku sedang jomlo tapi aku belum punya
perasaan sedikitpun ke dia. Bicara saja baru kali ini. Datang-datang langsung
menembak.
“apa
harus sekarang ya dijawabnya?”
“saya
tidak suka menunggu”
“tapi
sa belum suka sama Kita”
“kita
jalan saja dulu, nanti kan pasti akan muncul itu rasa suka”
“tapi
kan kita sepupuan”mengingatkan. Mungkin saja dia lupa atau tidak tahu.
“memangnya
kenapa kalo kita sepupuan”
“ndaji,
canggung saja”jadi malu, kirain dia tidak tahu.
Emilia
bernyanyi Big-big world di handphoneku. Link memanggil.
“assalamualaikum,
kenapa say?”
“belum,
tidak ada ojek di sini, pinjampi motornya Ka Adi baru antar saya”
“umm,
cepat nah, di halte”
“okemi,
waalaikumsalam”
Dia
sepertinya mulai gelisah melihat aku buru-buru minta diantar pulang. Aku merasa
bersalah membuat dia menunggu jawabanku.
“begini
saja, saya terima kita jadi pacarku tapi maaf, untuk saat ini saya belum punya
perasaan sama kita, Insya Allah saya akan suka sama Kita suatu saat”
“terima
kasih nah”wajahnya berubah merona, malu dan mungkin bahagia.
“itu
Link sudah datang, sa duluan nah”
“okemi,
sampai ketemu nanti”
Aku
hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan dia yang sedang berbunga-bunga
hatinya. Aku masih tak percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar